Saya pernah bersama dengan sebuah REALITA

Matahari sudah naik pada puncaknya..luar biasa panasnya, daripada berdiam diri tanpa melakukan apa2, lebih baik kita menulis. Udah lama ga menulis sesuatu di catatan ini.

Saya pernah menonton film tentang sebuah realita dan cinta, Radit dan Jani. Kebetulan film itu adalah film favorit kami. Jadi teringat saat itu kami nonton di salah satu bioskop tertua di Jakarta,mungkin bisa dibilang bioskop jaman enyak-babeh dulu kalo pada pacaran dimalem minggu.hehe (selain karena kami yg sangat nge-fans berat dg Vino G. Bastian tp juga alur cerita yg cukup menyeleneh namun bermakna).

Setelah menikmati dan menyimak apa yg disampaikan dari film tersebut, kami mencoba untuk mengambil sesuatu dari cerita yg brutal namun sangat romantis itu. Khususnya untuk saya, berjuang mempertahankan sebuah cinta demi menghadapi suatu realita, adalah hal yg sangat sulit dan tidak jarang jika harus mengorbankan cinta itu sendiri.

Mengapa demikian?
Berjalan dengan waktu, saya pernah merasakan ketika dihadapkan untuk mengambil keputusan yg tidak sejalan dengan kata hati karena menghadapi sebuah realita. Mungkin di film tersebut realita yg mereka hadapi adalah soal materi, ketergantungan obat, restu org tua, dsb. Sangat berbeda sekali dengan apa yg saya hadapi,tetapi perjuangan untuk menghadapinya, melewatinya, pada dasarnya hampir sama.

Ada saatnya ketika yg dinamakan sebuah perjuangan berada pada titik puncak yang tidak adalagi jalan keluarnya, saat itu, yang dapat dilakukan hanya mengembalikan semuanya kepada yg Maha Berkuasa atas segala hal, tapi ada beberapa hal yang selama ini saya yakini dalam kondisi apapun, yaitu kekuatan hati, keyakinan terhadap hati kecil, dan berdoa.

Kekuatan hati yang menjaga diri dari kerapuhan, ketidaksemangatan, yang selalu dapat memberi kebesaran hati untuk selalu bisa berlapang dada menghadapi apapun yang terjadi.
Keyakinan terhadap hati kecil, yahh.. Ini yang haruss dan yang paling berat karena banyak godaannya, godaan terbesar biasanya adalah saat melawan pikiran2 negatif tentang apa yang sedang di yakini (setan memang sangat lihay bergerilya dimana-mana..hehehe), saya selalu berkeyakinan jika apa yang saya rasakan, apa yang saya pikirkan, apa yang saya inginkan, dia disana juga demikian. Berat?!! Itu pasti, karena ga ada yang bisa ngejamin kalau dia juga seperti itu, tapi balik lagi.. Itu yang namanya berjuang terhadap keyakinan hati sendiri.
Berdoa, ketika segala hal sudah kita lakukan, tinggallah berdoa, meminta yang terbaik dari-Nya, memasrahkan segalanya, dan yang UTAMA adalah mempercayai dengan sepenuh hati, bahwa Allah senantiasa menyayangi hambanya, dan akan memberikan yang terbaik untuk bisa meraih sebuah kebahagiaan.

Alhamdulillah kisah saya tidak berakhir layaknya Kisah Radit dan Jani. Perlu kalian tahu, ternyata keyakinan pada hati kecil saya SAMA seperti hati kecil-Nya, dimanapun dia berada, dengan siapapun, dalam keadaan apapun. Memang tidak ada yang bisa menjamin akan hal itu. Satu-satu yang bisa menjamin adalah hati kecil saya sendiri.. :’)

-JL-

Sunday, August 7, 2011 at 12:58pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s