Cerita Anakku, Si Janin Berumur 14 Minggu

Hello.. ini ceritaku waktu berumur 14minggu

Tengah malam itu aku tau kalau ibuku sepertinya sedang gelisah. tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak seperti tidur pada malam-malam biasanya. Pagi hari, ia bangun dengan payahnya, lalu aku dengar percakapan antara Ayah dan Ibu-ku, yaa sepertinya ia sedang sakit. Suaranya asing sekali, seperti bukan suara ibu-ku, lebih berat dan memang terdengar melemah. Ternyata dengan kondisi seperti itu, ibuku tetap pergi ke Kantor, ditemani Ayahku tentunya. Baiklah, aku tau ia sedang kurang enak badan, maka sebaiknya aku jadi bayi yang manis dan anteng-anteng saja diperutnya.

Aku menepatinya, aku tidak membuat ibu mual, pusing, ataupun jumpalitan didalam perut. Aku anak yang pintar kan? hmmm karena aku sayang ibuku. Sesampainya di kantor, ibu langsung bergegas ke UGD untuk memeriksakan diri ke dokter. Tapi sepertinya pagi itu UGD sedang penuh “Kabanjiran Pengunjung” kemudian aku mendengar percakapan ibu dengan seseorang disana. “Dok, aku sempoyongan nih, minum obat apaa?” kata ibu sambil sesekali aku merasa tekanan perut ibu, karena..hmmm.. ibu menarik ingus dihidungnya dalam2 dan batuk sekuat2nya. Ya ya ya, aku tak apa ibu, hanya merasa tertekan sedikit jika ibu batuk-batuk. “Ke dokter Obsgyn aja ya fa, karena obatnya kalo hamil ga boleh sembarangan” aku dengar seseorang disana berucap demikian.

Lalu, tidak berapa lama ibu menghubungi Ayah-ku. “Syg kamu dimana? katanya berobat ke Dokter Obsgyn aja. Gimana kalo sekalian kontrol kebetulan bulan ini kita belum periksa kandungan”. Selang beberapa waktu…

Dengan tubuh yang lemah dan sangat “sempoyongan” (dengan kata itu ibu membahasakan keadaannya) ibu diperiksa lebih dulu oleh tante suster. “Yampuuunnn!!” aku tersentak kaget mendengar suara ibu seperti itu, badanku menggeliat sedikit, ohh maaf ibu semoga ibu tidak merasakan geliat tubuhku tadi. Aku mencoba mempertajam untuk mendengarkannya. “Serius ini timbangannya bener? ya ampun berat badanku turun lagii mba..haduuhhhh..” aku bisa ikut merasakan perasaan ibu saat itu, badannya melemas dan dalam hati kecilnya ia merasa sedih, merasa bersalah terhadapku, andai ibu bisa mendengarku, ibuu jangan bersedih, aku baik-baik saja diperutmu. berat badanmu turun itu bukan kesalahanmu, aku tau persis bagaimana ibu berusaha untuk bisa makan yang banyak, minum susu, makan buah dan minum vitamin dengan teratur, tapi memang mungkin tidak mudah untuk melawannya. tetap semangat ibuu, aku pasti akan tumbuh menjadi bayi yang sehat diperutmu dan aku sangat berharap kepada Yang Telah MenciptakanKu, agar selalu bisa menjaga kesehatan ibu :’)

Dag-dig-dug-dag-dig-dug, suara jantung ibu agak lebih cepat, mungkin ia sudah tidak sabar ingin mengintipku, mengetahui perkembanganku. Ibu masuk ke ruang praktek dokter didampingin Ayah, saat dokter mempersilahkan duduk, lagi-lagi aku mendengar suara yang asing. Ternyata ibu tidak periksa dengan tante dokter yang kata ibu cantik itu, suaranya sejenis dengan suara Ayah-ku, berarti aku menyebutnya Om, Om Dokter๐Ÿ˜€

Setelah ibu menceritakan keluhan yang dirasakannya, saatnya ibu naik ke tempat tidur. 2 bulan sebelumnya Tante Dokter selalu mengajak ibu untuk mengintipku dari “kursi panas” (yah, begitulah ibu menyebutnya), tapi sekarang Om Dokter mengantarkan ibu untuk melihatku melalui perutnya. Nyeess.. aku merasakan ada dingin2 disekitarku,itu jelly (gel) yang berfungsi sebagai perantara gelombang suara dari transducer ke permukaan perut ibu. “wahh sudah lebih besar ya dok bayinya” kata ibu. “umurnya 13minggu 6hari, ini tangannya, tu..dua..tiga..empat..lima.. jarinya lima ya” Om Dokter menjelaskan pada Ayah dan Ibu-ku. Aku merasakan perasaan ibu senang sekali. Om Dokter menggerak-gerakkan alatnya, menelusuri tiap jengkal badan mungilku, aku mencoba mencari perhatian Ayah-Ibuku ahh.. aku menghentakkan sekali badanku, aku ingin memperlihatkan kebolehanku beratraksi, Ayah..Ibu aku bisa bergerak lohh!!๐Ÿ™‚

Tak lama ibu berkata “itu bergerak ya dok?” horeee..ibu menyadarinya juga๐Ÿ˜€

“Tangan satunya lagi dimana?” Tanya Ayah. “Coba kita liat..hmmm ini dia tangan satunya ngumpet lagi dinaikin ke atas, Nah! ini kaki-nya” Kata Om Dokter. Kemudian setelahnya Om Dokter memperlihatkan suara detak jantungku. Aku jadi grogi diliatin Ayah dan Ibu, jadi aku ikut deg-degan deh “Detak jantungnya 170 ni, semuanya baik-baik aja” kata Om Dokter sebagai penutup perjumpaan aku dengan Ayah dan Ibuku.

Hallo.. ini aku saat berusia 13 minggu 6 hari๐Ÿ™‚

Lalu, Ayah dan Ibu entah bicara apa dengan Om Dokter, aku tidak terlalu mendengarkan dengan seksama lagi, aku mulai mengantuk tapi aku senaang sekali setiap kali Ayah dan Ibu mengintipku. Terakhir yang aku tau, ibu dapat surat ijin untuk istirahat dirumah dan dikasih obat yang banyak.hihihihihi pasti ibuku sedikit bete deh, ibu kan ga suka minum obat.. ayoo ibu, yg rajin minum obatnya yaa, biar cepat sembuh, bisa makan banyak lagi :’)

Ini ceritaku, cerita si janin, cerita si calon bayi berumur 14minggu..

Senin, 27 Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s