Cerita Anakku, Si Calon Bayi Berumur 18minggu “Kejutan untuk Ayah dan Ibu”

Rabu, 26 September 2012

Ibu dan Ayah sudah sepakat untuk memeriksakan aku ke Om Dokter Satrio pagi ini. Itu berarti aku bisa memamerkan perkembanganku saat ini di depan mereka.. yipiiiiii!!!

Sesampainya di kantor, Ibu bergegas naik menuju meja kerja-Nya untuk menaruh tas kemudian mengutak-atik komputernya sejenak, hmmm… aku tak tahu apa yang ibu kerjakan, tapi tidak memerlukan waktu sampai 3 menit sesuatu seperti selembar kertas putih keluar dari belakang tempat duduk ibu “dreettt… dreettt… dreeetttt!!!” kurang lebih seperti itu bunyi yang aku dengar🙂. Kemudian ibu mengangkat gagang telepon, memencet 4 digit nomor lalu bicara “Mba, apakah dokternya sudah datang?”  terdengar suara ibu  yang lembut berbicara dengan tante suster. Sepertinya Om Dokter sudah ada, karena ibu segera menutup telepon dan bersiap untuk turun ke tempat prakteknya.  Sebelum turun, ibu menyempatkan untuk berbicara dengan seseorang yang suara-nya sejenis dengan ibu, yaahh.. aku sering dengar suara itu, ibu memanggilnya “Barina” berarti aku harus memanggilnya Tante Barina, ahh! tapi terlalu sulit mengucapkan Tan-te-ba-ri-na, kalau aku sudah keluar dari rahim ibu, aku akan memanggilnya Tan-te-Na, Rasanya ejaan itu lebih mudah untukku,hehehe🙂 ibu bermaksud mengajaknya untuk ikut melihatku, kurang lebih seperti itu yang ku dengar.

Seperti biasa, aku sudah hafal urutannya. Sebelum ibu dipersilahkan masuk ke ruang praktek Om Dokter, ibu akan dicek tensi darahnya, kemudian ibu akan diminta naik ke sebuah alat yang bisa memperlihatkan angka berat badan ibu. Kali ini aku merasakan ekspresi ibu tidak sekaget bulan lalu, mungkin berat badan ibu tidak turun lagi, syukurlah. Beberapa menit berlalu, aku heran kok ibu belum masuk juga ke dalam ruangan ya? Ya ampun! aku baru sadar, Kemana Ayah? Daritadi aku tidak mendengar suaranya. Oohh mungkin ibu belum masuk ruangan karena menunggu Ayah.

Akhirnya yang ditunggupun tiba, Ayah ku yang tampan dan gagah datang menghampiri. Lalu Ayah, Ibu dan Tante Na pun bergegas masuk ke dalam ruangan karena Om Dokter sudah menunggu. Rasanya aku sudah tak sabar lagi, rencana-nya hari ini aku ingin memberikan kejutan untuk Ayah dan Ibu.

Ibu sudah siap untuk di USG, kalian tahu kan USG? Itu loh alat yang menjadi perantara agar ibu bisa lihat keadaanku didalam rahim-nya. Om Dokter mulai menulusuri dengan perlahan permukaan atas perut ibu, aku merasakan jantung ibu berdegub kencang, ibu pasti deg-degan sekali, ingin tahu perkembanganku sekarang. Ayah dan Tante Na pun ikut mencermati setiap gerakan alat yang dimainkan Om Dokter melalui layar monitor.

Mula-mula Om dokter memberitahu diameter antara 2 sisi kepala ku, kemudian lingkar perut, lalu diperlihatkan juga tulang paha ku yang sudah mulai tumbuh memanjang. Sepertinya Om Dokter mau mengukur berat badanku, jadi aku berusaha sebisa mungkin untuk jadi bayi yang manis, yang tidak jumpalitan kesana kemari, walaupun tangan dan kakiku rasanya gatal sekali ingin memamerkan gerakan-gerakan acrobat dihadapan mereka. “Beratnya 230gr nih” suara Om Dokter memecahkan keheningan. Aku pun baru tahu kalau saat itu beratku sudah 230gr, ibuu lihatlah aku tumbuh dengan pesat, rasanya baru beberapa minggu lalu panjangku tidak sampai 10cm. Ayah dan Ibu pasti senang melihat perkembanganku ini. Oya, karena umurku sudah lebih dari 12 minggu, jadi panjang ku tidak bisa diketahui lagi dengan akurat, kata Om Dokter si karena badanku sudah membesar dan bertekuk-tekuk.hehehe. Om Dokter melanjutkan dengan memperdengarkan detak jantungku, seketika ruangan terdengar bunyi “dug..dug..dug..dug ..dug..dug..dug..dug” itu suara detak jantungku, terdengar lebih cepat ya dari detak jantung orang dewasa. “Detak jantungnya 150, sekarang kita lihat ya muka-nya” Om Dokter berusaha untuk mendapatkan sisi muka ku, tapi tidak berhasil, aku mulai tidak bisa diam. Hey itu bukan karena aku tidak mau menunjukan ke ibu seperti apa muka ku loh, tetapi ada yang ingin aku perlihatkan selain itu. Om Dokter sepertinya memang sengaja untuk memperlihatkan bagian itu di akhir pemeriksaan.

Hello.. Ini tulang punggungku, apa kalian bisa melihatnya dengan jelas?

ini jariku!

Lihatlah jari-jariku! coba kita hitung yuk, satu.. dua.. tiga.. empat.. lima!!! Alhamdulillah jari-jariku ada lima.hehehe kalau diperhatikan dengan lebih cermat, kepala dan muka ku mungkin bisa dibayangkan seperti apa bentuknya, apa aku mirip dengan Ayah? Atau mirip seperti Ibu? Atau mungkin seperti pembalap MotoGP “Dani Pedrosa” hahahahahaha kalian bingung kan, bagaimana aku si bayi pintar ini bisa tau tentang pembalap yang kata ibu ganteng dan imut itu. Bagaimana tidak, disetiap kesempatan ibu menonton MotoGP yang ditunggu-tunggu adalah Sosok Om Dani Pedrosa, lalu aku merasakan ibu mengelus-elus perutnya sambil berucap dalam hati “semoga anakku mirip pedrosa” hihihihihi.. pasti Ayah dengan lirikan matanya yang sipit dan tajam, menatap pembalap dengan motor “bernomor” 26 itu dengan cemburu🙂

Kalau dilihat langsung dari monitor USG, kalian bisa lihat dengan jelas ada bagian yang berdenyut-denyut , itu jantungku loh!

SURPRISEEDDD!!!!!!

Heeeeyyyyyy!!!! Lihat lah yang di bagian tengah itu!!!!! Ayoo coba diperhatikan dengan lebih cermat lagi, ada sesuatu yang menonjol, kata Om Dokter itu alat kelaminku.

“Anaknya laki-laki ya” Om Dokter pun mencoba memastikan bahwa aku adalah LAKI-LAKI. Ayah…Ibu.. kejutan ini yang ingin aku perlihatkan ke kalian :’)

“Dok, apa sudah pasti itu laki-laki? Atau bisa berubah ya?” terdengar suara ibu bertanya kepada Om Dokter. “Iya, insya allah ga berubah” Jawab Om Dokter dengan santai. Pemeriksaan pun selesai, Ayah, Ibu dan Tante Na pamit meninggalkan Om Dokter di ruangannya.

Oya, saat usia ku memasuki 18 minggu ini, hubungan interaktif ibu dengan ku semakin terjalin erat, setiap kali ibu gembira, sedih, lapar, bahagia atau merasakan hal lain, aku pasti ikut merasakannya. Aku ingin ibu bisa bersenandung untukku setiap malam jika ibu ingin tidur, atau Ayah mengajakku berbicara menanyakan hal apaaaaa saja, karena aku sudah bisa mendengar! bahkan akupun bisa terkejut jika mendengar suara keras.

Hooaaamm.. sudah yah ceritanya, aku mengantuk dan ingin cepat-cepat tidur.  Ehh aku kan sudah mulai bisa bermimpi, mimpi ku di rahim ibu terasa jauh lebih nyata daripada mimpi-mimpi Ayah dan Ibuku di Alam dunia. Aku sering bermimpi mendengar suara gemericik air, maka gemericik air itu seperti nyata. Mimpi terbang bersama seekor Burung Elang yang gagah perkasa mengelilingi padang rumput yang berwarna hijau, maka aku benar-benar merasakan terbang tertepa angin bersama Burung Elang dan merasakan indahnya padang rumput yang hijau. Mimpi berbicara dengan seseorang yang entahlah dengan wujud seperti itu disebut apa lalu aku dikasih segelas teh manis, maka aku benar-benar merasakan manis-nya teh tersebut. Ada satu mimpi yang amat sangat aku inginkan, aku ingin bermimpi melihat bagaimana sosok Ayah dan Ibu ku, bagaimana wajahnya, bagaimana sikapnya, apakah mereka Ayah dan Ibu yang baik? Apakah mereka akan memberikan kasih sayang sepenuhnya untukku ketika aku sudah lahir ke dunia?

Hmmm aku selalu meminta dan berharap kepada Yang Menciptakan ku agar wanita yang tengah meminjamkan rahim suci-Nya untuk aku berkembang hidup serta seorang laki-laki yang selalu ada disamping-Nya dan menjaga-Nya setiap waktu adalah seorang Ibu dan Ayah yang baik.

Yang akan menyayangiku sepanjang hidup mereka..

Pssssssttttttt….setelah Ayah dan Ibu tahu bahwa aku adalah Calon Bayi Laki-laki, hampir setiap waktu aku mendengar mereka sibuk memikirkan calon nama buatku..hihihihihi🙂

Ini ceritaku, si calon bayi berumur 18 minggu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s