The Journey of Our Relationship (Jaya dan Laila)

Ini adalah kisah nyata.. kisah antara kami berdua, Jaya dan Laila..

Senin, 19 Juli 2004

Hari kedua Masa Orientasi Siswa, SMA Negeri 1 Cibinong. Di tengah panas matahari yang menyengat tidak menyurutkan kami –para siswa baru berseragam putihbiru– untuk berkumpul pada pinggiran sebuah lapangan. Celotehan siswa-siswi mulai terdengar, sementara aku sedang asyik memperhatikan wajah-wajah yang terasa asing bagiku. Hanya ada beberapa sahabat, itupun berasal dari SMP yang sama, sehingga cukup akrab bercengkrama denganku. Kami semua dipandu oleh senior yang saat itu saling berteriak untuk memberikan instruksi agar kami duduk dalam barisan yang tertib sesuai dengan kelas kami masing-masing.
Kelas 1-2, yah itulah kelasku.. ketika yang lain sudah mendapat posisi tempat duduk masing-masing, aku memilih untuk duduk di tengah-tengah. Aku menyapa seorang laki-laki kecil, bermuka cina, memakai kacamata dengan rambut model cepak nyaris botak “maaf.. boleh duduk disini“, laki-laki kecil itu hanya memamerkan gigi putihnya, memberikan sebuah cengiran (sampai saat ini aku masih ingat sekali cengiran itu dan takkan aku lupa sampai kapanpun)

Aku asumsikan itu sebagai jawaban “iya”. Kamipun duduk bersebelahan, tidak banyak kata-kata diantara kami, semua pandangan tertuju pada kegiatan yang sedang berlangsung ditengah lapangan, sampai tiba saatnya makan siang. Obrolan para siswa-siswi yang ada disekelilingku berlanjut dengan berbasa-basi mengomentari menu makan siang yang kami bawa, aku memperhatikan, sepertinya dia laki-laki kecil yang tidak terlalu banyak bicara, tetapi memiliki pandangan mata yang bermakna, hanya saat itu aku tak mau banyak menerka-nerka.

Hari-hari berlanjut sebagai siswi baru yang memakai seragam PutihAbu, ternyata setelah Masa Orientasi tersebut, aku mendapati laki-laki kecil bermuka cina dan berkacamata itu ada di dalam kelasku, kami satu kelas! tak pernah ada perkenalan secara resmi menyebutkan nama kami masing-masing, sampai aku tau dengan sendirinya, bahwa laki-laki kecil bermuka cina dan berkacamata itu bernama.. Wijayanto Hadikusuma
Aku tak pernah tahu bagaimana awalnya, sampai teman-temannya selalu menggodai aku dengan-Nya, setiap kali kami berpapasan, saat jam istirahat tiba atau saat aku pulang sekolah, sebelum naik ke dalam angkot, mereka tertawa-tawa tiada habisnya mengoda-goda aku dengan dia. Aku sendiri tidak mengerti maksud itu semua, karena aku tidak benar-benar mengenal sosoknya apalagi dekat-dekat dengan-Nya. Tetapi aku selalu memperhatikan air muka-Nya, dia tidak pernah marah dikerjai oleh teman-temannya seperti itu, bahkan aku sering melihat dia justru tersenyum malu-malu.

Senin, 16 Agustus 2004

Sekolahku mengadakan lomba-lomba dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Hampir seharian penuh, aku mengikuti rangkaian kegiatan yang sudah dibuatkan oleh panitia. Ada sebuah lomba yang wajib diikuti oleh perwakilan kelas 1,2 dan 3 hampir tak ada satu orangpun yang bersedia mewakili kelasku untuk berpartisipasi dalam “Lomba Mirip Artis“. Tetapi betapa terkejutnya saat perwakilan dari kelasku adalah si laki-laki kecil bermuka cina berkacamata itu, dia mengikuti lomba mirip artis tersebut dengan mengklaim dirinya mirip “NOBITA” – Doraemon..fhuuuhhhhhhhh.. aku hanya bisa menggeleng-geleng kepala, dalam hati “gilaaaa.. pede buangeetttt tu org, mirip dari hongkong!

Acara 17-an pun usai, aku bersiap untuk pulang, berjalan menuju gerbang sekolah. Tiba-tiba, Si laki-laki kecil bermuka cina itu datang menghampiri, dan untuk pertama kalinya dia mengajakku bicara. Entah hati dan perasaan ini dinamakan apa, yang jelas, aku merasa tidak karuan, tangan panas dingin, dan sulit sekali bicara dengan sewajarnya..

Dia membuka pembicaraan, “La, mau ngomong sebentar

mau ngomong apa? ko manggilnya (La)?” kataku bertanya

“iya mau manggil kamu dengan nama LAILA, bolehkan?” jawabnya

“ohh iya boleh. trus kenapa?”

 “Jaya suka sama Laila, Laila mau ga jadi pacar Jaya?” tanyanya dengan nada gugup dan mata yang sebentar-sebentar menunduk

Benar-benar speechless sekali saat itu, aku tidak bisa memutuskan aku harus bagaimana, aku paling takut dengan moment-moment seperti itu, takut jika ada laki-laki yang mengeluarkan kata-kata yang menjurus kearah “penembakan

Makasih, aku hargai atas perasaan kamu, tapi saat ini kayanya lebih baik kalo kita berteman saja dulu” Jawabku, yang aku rasakan, aku menjawabnya dengan setengah hati, karena kaget dan masih belum percaya, buatku saat itu terlalu cepat dan aku benar-benar belum mengenalnya secara dekat. Saat itu dia menerima jawabanku, kemudian dia menawarkan diri untuk mengatarku pulang ke rumah

Selepas kejadian itu, hari-hari ku di sekolah, terkadang aku suka mencuri pandang diam-diam ke arahnya. Semenjak dia menyatakan perasaannya tgl 16 Agustus lalu, justru aku malah ingin selalu mencuri pandang ke arahnya, walaupun hanya ingin sekedar memperhatikan dan tak jarang pula mata kami sering bertemu, tentu saja itu memalukan, karena kami sama-sama tahu, jika kami saling mencuri-curi pandang.

Kamis, 26 Agustus 2004

Jam pelajaran yang kedua, kami hanya di beri tugas karena gurunya tidak ada. Setelahnya, aku dan teman-temanku beranjak ke musholah untuk sholat ashar. Sambil menunggu azan, aku bermain sebuah permainan (lupa main apa??) dengan aturan mainnya yang kalah harus mengikuti kemauan yang menang. Dan saat itu aku kalah…. aku diminta ketika kembali ke dalam kelas untuk menyatakan perasaanku terhadap Si muka cina itu di depan teman-teman, campur aduk yang dirasakan, tapi ada kekuatan yang mendorong agar aku tetap bersikap sportif.

Setibanya di kelas, lonceng sekolahku sudah dibunyikan,  itu berarti jam pelajaran akan segera dimulai. Aku melihat wajah teman-temanku yang mendesak agar aku menuntaskan apa yang harus dituntaskan, sebelum guru kami masuk ke dalam kelas. Akhirnya aku memberanikan diri maju ke depan kelas, dan aku berkata : “Teman-teman, mohon perhatiannya sebentar!, saya disini cuma mau bilang, kalo saya suka sama jaya” ………………. OHMYGOD! riuh sekali seisi kelas, aku berlari kecil menuju mejaku, aku malu! aku sempat mendengar celotehan suara teman-temanNya memberikan support, agar dia segera menghampiriku, tapi aku tidak berani menengok kebelakang untuk melihatnya. Kemudian dia datang menghampiri mejaku, sambil mengusap-usap rambutnya yang tidak basah sama sekali, dia bertanya : “itu yang tadi beneran??” dan aku tak tahu kekuatan dari mana, aku mengangguk sebagai tanda “iya”, setelah kejadian tersebut. Cerita kami pun dimulai…

Cerita sebuah hubungan yang belum saling mengenal satu sama lainnya, hubungan yang bisa terjalin hanya dengan perkenalan sesaat. Hanya bermodalkan…hmmm entah apalah, aku pun sampai sekarang tidak tahu dan bingung sendiri kenapa bisa begitu.. Intinya saat itu, aku tidak begitu mengenal dia dan dia pun juga tidak mengenalku.. aneh yah, tapi memang seperti itu yang terjadi🙂

Masih berseragam PutihAbu, mungkin masih ada yang pro dan kontra, atau ada beberapa pandangan yang kurang menyetujui pacaran saat masa-sekolah, tetapi dari awal, aku sudah bertekad bahwa hubungan ini sebagai semangat kami untuk giat belajar, untuk menggapai cita-cita, sebagai teman spesial untuk berbagi rasa suka, sedih, gembira, maupun saat berduka. Dan kami buktikan itu, kami menjalani semua ini dengan hal-hal positif, aku senang dia juga berpikir hal yang sama, kami bisa saling melengkapi dalam hal pelajaran, si laki-laki bermuka cina itu, sangat pandai untuk pelajaran sains. Aku sempat tidak menyangka, jika kepandaiannya dalam pelajaran Matematika, Fisika, Kimia melebihi dari apa yang aku bisa.. dan aku banyak belajar darinya

Masa PutihAbu kami lalui, seperti layaknya masa-masa remaja yang sedang puber. Jalan bersama, nonton film di bioskop, kuliner makanan, belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, atau sekedar mengantarku pulang sekolah tapi hanya sampai depan gang rumah (hihihihi karena kami masih backstreet dari orang tua masing-masing) dan masih banyak sekali kejadian-kejadian yang tak bisa terlupakan..

tentunya semua itu tidak terlepas dari yang namanya sebuah pertengkaran, kecemburuan, saling memegang ego masing-masing, marah, kecewa, sedih, menangis, tetapi aku menganggap hal-hal tersebut bukan sesuatu yang harus disesali, tetapi aku syukuri, karena dengan itu aku banyak belajar, banyak mengenal dan lebih memahami karakter satu sama lainnya. Kami berusaha menjaga kepercayaan orang tua, dengan kami berusaha menjaga nilai-nilai pelajaran kami agar tidak turun dan kami memang membuktikannya.. saat kami lulus, kami mendapat nilai yang sangat memuaskan.

Setelah melalui masa-masa putihabu yang sangat mengesankan, kami terpisah dalam hal menuntut ilmu, Dia melanjutkan pendidikan di sebuah universitas negeri di Bogor, dan aku di sebuah universitas negeri di Jakarta. Masih berpegang teguh dengan prinsip saat kami SMA, kami harus tetap bisa menunjukkan prestasi yang terbaik untuk kedua orangtua kami, tetapi kami juga harus bersusah payah menjaga komitmen, untuk tetap bisa bersama, walau kami harus dibatasi oleh jarak dan waktu. 3 tahun kami menuntut ilmu untuk mencapai cita-cita yang kami inginkan dan restu orangtua sudah kami dapatkan, satu hal yang sangat aku ingat, baik Mama, Ibu, Bapak maupun Ayah, tidak pernah melarang kami menjalin hubungan, mereka semua tahu kami berteman dekat sejak SMA, mereka hanya berpesan agar kami berdua bisa menata masa depan terlebih dahulu, agar kami mendapat kehidupan yang baik sesuai dengan harapan yang kami cita-citakan. dan kamipun sepaham dengan mereka.

Dari awal kami memang sudah berkomitmen untuk menjalani hubungan ini dengan serius, bahkan “menikah” memang sudah sering kami bicarakan. Kami hanya bisa berusaha, untuk mewujudkan mimpi-mimpi kami, dan kami tahu untuk itu, kami harus melewati banyak halangan, rintangan, cobaan yang terkadang malah hampir menghancurkan kami berdua

Aku percaya Allah selalu ada, jika memang kami sudah digariskan bersama hingga akhir hayat, Allah akan selalu menjaga hati kami, adanya kesusahan, cobaan, halangan, rintangan buat kami adalah sesuatu yang justru membuat kami lebih kuat dan bisa lebih memahami satu sama lain.

Sabtu, 26 November 2011

Kami mengikatkan diri dalam suatu hubungan yang dinamakan TUNANGAN
Sebelum datangnnya hari tersebut, kami berdua sudah bicara sangat matang mengenai keseriusan kami melangkah dalam hubungan ini, 7tahun kami bersama, rasanya memang sulit untuk bisa terpisahkan, hati kami rasanya sudah sangat kuat sekali, aku adalah dia, dia adalah aku. Sebenci apapun kami satu sama lain pada suatu waktu, semarah apapun kami satu sama lain ketika sedang bertengkar, cinta itu selalu ada diantara kami, tidak pernah hilang, tidak pernah pergi jauh, selalu hadir bersama hembusan nafas.

Ya Allah aku selalu bersyukur bisa menjalani hubungan yang indah ini bersama orang yang sangat aku cintai. Mencintainya lebih dari sekedar hal-hal yang membahagiakan, tetapi segala kekurangan maupun kelebihannya, adalah seutuhnya yang ada di hati ini.

Hari Sabtu yang luar biasa itu, aku dan keluarga menyambut hangat kedatangan keluarga-Nya. Hati ini menanti dengan debar yang kencang, melihat satu per satu anggota keluarga-Nya hadir melangkah, memasuki rumah. Ingin rasanya menangis, karena aku bahagia sekali. Saat Ayahanda-nya bicara kepada kedua orangtuaku, disaksikan puluhan mata orang-orang yang kami cintai, Ayah-Mu meminta kesediaanku untuk menjadi pendamping hidupmu. tentu dengan senang hati aku bersedia untuk menemanimu sampai akhir hayatku.

Sabtu, 11 Februari 2012

Salah satu mimpi terbesar kami terwujud. kami disatukan dalam ikatan pernikahan, sebuah ikatan yang sakral, yang banyak akan syarat, tetapi menyimpan banyak kebahagiaan tanpa batas jika dapat menjaganya dengan baik.

Saat ini aku sudah benar-benar menjadi istrinya, menjadi pendamping hidupnya. Allah menciptakan si laki-laki kecil bermuka cina dan berkacamata itu, sebagai imamku. Laki-laki yang saat ini sudah menjadi seorang pria yang bertanggungjawab, berwibawa dan menjadi nahkoda atas bahtera rumah tangga yang akan aku dan dia jalani bersama.

….Jaya dan Laila….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s