“Kalau Kontraksi Jangan Nangis, Bun”

Sepanjang melewati perjalanan, badan ini rasanya masih sehat dan cukup kuat untuk menghabiskan sisa-sisa waktu setelah beraktivitas seharian. Walau udara dingin sedikit menyergap seluruh tubuh menemaniku pulang ke rumah.

Sesampainya dirumah, perut ini sudah keroncongan minta di isi makanan. Langsung saja ku santap makanan yang ada dengan lahapnya.

Tapi belum habis butiran-butiran nasi yang ada di piring, tiba-tiba perutku terasa sangat sakit sekali!

Rasa sakit seperti itu sudah pernah aku rasakan, sekitar 2 hari sebelumnya. Saat itu seluruh permukaan perutku yang menonjol dan membulat ini terasa kencang dan keras sekali. Rasa tidak nyaman, mules, nyeri dan juga mual begitu terasa, tapi aku tidak ingin mengeluh apapun! Aku coba untuk menenangkan diri sambil memutar otak, ini sakit karena apa ya? Salah makan kah? Salah posisi tidur? Apa Elang baik-baik saja didalam? Bayi kecilku kenapa? Mungkin Ayah melihat ekspresi mukaku yang tidak biasa, akhirnya aku sampaikan apa yang sedang aku rasakan. Tapi aku juga berpesan agar tidak perlu panik, karena kebetulan aku sedang berada di rumah orangtuanya, aku hanya tidak ingin nanti membuat “kegaduhan” dan merepotkan orang-orang. Ayah segera memberiku air putih hangat dan menyuruhku untuk berbaring dan tidak berapa lama kemudian sakit di perutku pun mereda.

Setelah mengingat kejadian 2 hari yang lalu itu, aku merasa ini sama! bahkan terasa lebih nyeri, lebih mules, perut lebih kencang seperti tertarik-tarik dan keras sekali kalau dipegang, Bayi kecilku terus bergerak-gerak . Pertahananku pun luluh, tanpa disadari air mataku menetes dengan sendirinya. Aku mencoba menenangkan diri, tapi aku tidak bisa menutupi segala rasa yang saat itu sedang dirasakan! Aku jumpalitan kesana-kemari, membolakbalikan badanku mencari posisi yang paling nyaman agar bisa meredakan sedikit sakit yang aku rasa. Aku menangis! Aku menangis! Ayah mencoba untuk menenangkanku, tapi aku malah semakin menjadi-jadi nangisnya. Aku bingung sendiri, selemah itukah aku? Menahan rasa sakit seperti itu saja aku tidak mampu? Aku lihat ayah bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan solat, setelahnya iya membacakan doa dan menggumamkan ayat-ayat alquran sambil mengusap-usap perutku yang masih keras dan kencang. Dan lagi-lagi aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis😦

Sampai saat itu aku tidak tahu persis apa yang aku alami, apakah itu yang dinamakan kontraksi? usia kehamilanku sudah memasuki minggu ke 32, ya mungkin saja itu yang namanya kontraksi. Aku coba menghubungi dr.satrio untuk menanyakannya. Beliau menjawab memang itu yang dinamakan kontraksi lalu menyuruhku untuk minum duvadilan 1/2 tab dan istirahat.

Semakin lama, rasa “campur aduk” itupun mereda, Elang, Si Bayi kecilku, masih terus aktif bergerak dalam intensitas yang cukup sering. Aku sudah cukup kuat untuk bisa solat, lalu aku bergegas menuju kamar mandi dan menunaikan solat. Selepasnya, masih dengan posisi duduk diantara dua sujud, tiba-tiba Ayah berbicara :

“Bun,kalau kontraksi jangan nangis, kalau kontraksi itu jangan-nangis”

Aku sedikit kaget, karena baru saja selesai solat kenapa Ayah ujug-ujug bicara seperti itu. Aku hanya diam.

“Kalau kontraksi itu, bayinya lagi cari jalan keluar makanya perut kamu sakit. Kalau kamu nangis kasihan bayinya Bun. Nanti dia sedih karena ngerasa kamu ngga mau dia keluar.”

“Kok aku lagi cari jalan lahir untuk keluar Bunda malah nangis, apa Bunda ngga mau ketemu aku?” Kata ayah mencoba menggambarkan suara anak kecil yang berbicara seperti itu

JLeeeebbbb!!!! rasanya omongan Ayah terasa sangat menusuk sekali. Ayah benar, tidak seharusnya aku menangis, tidak seharusnya aku mengeluh-mengeluh sakit. Harusnya aku kuat! Harusnya aku malah senang, karena Elang sudah mulai mencoba mencari jalan lahirnya, berarti tidak lama lagi aku bisa bertemu Elang, aku bisa peluk dan gendong-gendong Elang. Aku hanya bisa diam. Tapi dalam hatiku, aku menyesali sesesal-sesalnya, harusnya aku tidak perlu menangis! Terima Kasih Ayah, sudah menguatkan ku dan mengingatkanku akan hal ini.

Keesokan harinya, aku baru tahu kalau seperti itu yang dinamakan Kontraksi Palsu atau Braxton Hicks. Aku bertanya kesana-kemari mencari informasi apapun tentang kontraksi palsu dan kontraksi “beneran”

Kontraksi adalah serangkaian kontraksi rahim yang teratur, yang secara bertahap akan mendorong janin melalui serviks (rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar dari rahim ibu. Kontraksi menyebabkan serviks membuka secara bertahap, menipis dan tertarik sampai hampir menyatu dengan rahim. Perubahan ini memungkinkan janin bisa melewati jalan lahir.

Sebelum terjadinya Kontraksi asli, seorang calon ibu bisa merasakan Kontraksi palsu atau kontraksi rahim yang tidak teratur. Ini merupakan hal yang normal. Mungkin sulit untuk membedakan Kontraksi asli dan Kontraksi palsu. Biasanya Kontraksi palsu tidak sesering dan tidak sekuat Kontraksi asli. Kadang satu-satunya cara untuk mengetahui perbedaan antara Kontraksi asli dan Kontraksi palsu adalah melakukan pemeriksaan dalam. Pada pemeriksaan dalam bisa diketahui adanya perubahan pada serviks yang menandakan dimulainya proses persalinan.

Oke! aku berkesimpulan bahwa kontraksi palsu itu belum ada apa-apanya. Bagaimana rasanya Kontraksi asli itu? aku sendiri tidak tahu, karena belum pernah merasakannya. Tapi aku yakin, cepat atau lambat aku akan merasakannya. Dan aku tidak mau membayangkan rasanya seperti apa, yang paling penting sekarang, aku harus menyiapkan diri dan mental untuk menghadapinya.

Hmmm dan satu hal lagi, menanamkan dipikiranku mulai sekarang dan seterusnya pesan dari Ayah : “Kalau kontraksi jangan nangis Bun!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s